14 Agustus 2008

Kulakan di Lorong Gerbong

Minggu lalu, pasnya Kamis malam, saya nyéngklak kereta Tawang Jaya. Terlambat setengah jam, nggak terlalu lama untuk segerombolan niat. Tujuan Semarang nggak terlalu padat. Angin pesing belum lewat-lewat, isi kemih penumpang belum tumpah lalu nylèprèt di bolongan toilet dan sekitarnya.

Sepanjang rel Pasarsenen-Poncol gojègan kéré bersama gerombolan lajang jadi-jadian, bikin perjalanan tak terasa melelahkan. Semuanya jadi ringan, ditambah lagi rombongan pengasong yang tak kalah meriah. Menciptakan pasar lorong gerbong yang langsung dimulai begitu sepur melaju dan penumpang menata duduknya, tanpa perlu upacara pengguntingan pita atau pelemparan batu pertama. Biar pengasong partikelir maupun pengasong negeri, lanang atawa wadon sigra beraksi bersaing bebas menemukan pembeli.

"Panda, panda, mbak...." tak peduli di tangannya ada koala, buaya, kura-kura dan boneka wanita. Atau, "Telor asin, ndhog asin, empat lima ribu asin tenan...." dan seterusnya bergantian bunyi dengan rokok, permen, kopi, susu, tahu, kacang dan seterusnya.
Pengasong negeri bagian nasi tak kalah aksi, sambil membawa misi GEREPEH (Gerakan Episiensi dan Hemat Energi), menerapkan teknik menjual sekaligus penghematan bahan bakar nasi dengan mengurangi emisi abab: monthak-manthuk sambil gemremeng "gorèng? rames?".

Berhenti di Cikampek, pas jam sebelas malam, pasar lorong gerbong makin ramai. Penjaja tak ambil pusing dengan dua polisi kerempeng berkalung senapan yang bergerak laju menuju gerbong paling belakang. Lain dengan kereta kelas eksekutif, jangankan berani masuk gerbong, pengasong yang kedapatan berlama-lama di bordes saja sudah bisa kena sepak pak polisi chusus. Penumpang di kereta ekonomi ini memang diberikan fasilitas lebih. Lebih ramai dan lebih betah melèk.

Tak lama kemudian, tukang cabik karcis dan polisi bersatu padu menowel penumpang satu-persatu. Saya siapkan karcis lima potong, biar nggak perlu ditowel kondektur penakut berbadan besar dan berkumis mekar. Saya tengok pengawalnya, kini bedhil pak pulisi dikeloni di depan, mungkin bèn kétok sangar seperti rambo.
Lama mereka nyangkut di bangku belakang saya, udur soal bayaran. Si penumpang juga nggak kalah ngèyèl, entah tiketnya memang beneran ilang atau memang mau sengaja ngemplang. Bedhil sarimbit rupanya mengangkat wibawa pak kondektur dan mengandaskan niat damai si penumpang. Punggawa yang biasanya makan mel-melan, kini berani menggebuk dua kali harga tiket.

Di belakang para punggawa itu, pak tua dengan topi dimiringkan lantang menawarkan sebendel koran. Bukan koran baru, tapi koran bekas dengan harga setengah koran hari ini yang sudah kadaluwarsa.
"Koran, koran. Koran gelaran limaratus. Gelaran, gelaran... Tidur sama inul gopek...." Saya ngakak. Penumpang yang barusan èyèl-èyèlan sama kondektur, juga tak mau kalah ngakak. Hilang sudah kerut di jidatnya.

Berikutnya, pengasong negeri bagian bantal, jalan di lorong gerbong memeluk bantal sambil mengucap "bantal? bantal?", tak kalah ngirit. Kalau ditanya, "berapa?", baru menjawab singkat, "duaribu-maratus.", sudah.
Saya rasan-rasan sama istri, "Hèlèh, bantal nggak mau kalah sama BBM, sewanya ikutan naik."
Baru sebulan lalu kami berdua naik kereta bisnis dari Solo ke Bandung, nyewa bantal cuma seribu-maratus, kini di kereta ekonomi sewanya sudah duaribu-maratus.
Atau mungkin juga urusan sewa bantal begini juga pakai subsidi silang, ya? Yang tiketnya agak mahal, sewa bantal harus lebih murah, sedangkan yang tiketnya murah, sewa bantal boleh dibikin lebih mahal. He-he-he...

Tengah malam kurang setengah jam, kereta sudah berhenti lagi di Pegaden Baru. Kereta berkasta rendah begini memang diwajibkan lebih sering berhenti. Menunggu kereta yang lebih mahal lewat duluan atau simpangan dari depan. Jadi kalau urusan telat, boleh lebih lamaan.... He-he-he..., begitulah, kere dilarang komplen.

2 komentar:

Moes Jum mengatakan...

Dadi kere memang kudune mbambung ... ojo malah komplen, ora mathuk kuwi. Tapi critomu ki pancen yahud tenan. Aku dadi meri pengen nglakoni mbambungan maneh ...

anakperi mengatakan...

moes jum: kesadaran mbambung memang melarang komplen. Trus, ayo kapan? :)