15 Februari 2007

kulakan kebahagiaan

Masih seputar Simbah, dasarnya pekerja keras dan pecinta keluarga, tak mungkinlah kedua hal itu ditinggalkan mak prung, gitu...
Pulang dari pasar, pasti bawa jajanan yang jan uénuk-énuk buat cucu-cucunya yang sedang berlibur dan menginap di rumahnya. Itu salah satu model memancing kedekatan yang klasik dengan para cucunya. Tapi ada satu caranya yang memang tidak lazim dipandang orang. Selain dengan alasan beliau memang tidak terbiasa ngajak main jaran-jaranan atau jungkir walik di kasur frankenstein-nya, juga karena badan sudah capek sepulang dari pasar, apalagi kalau lihat umurnya. Lalu bagaimana Simbah mengajak para cucu memupuk kedekatan di sela sore istirahatnya?
Saya rasa waktu itu Simbah berpikir sangat keras hingga menemukan formula ini. Formula yang betul-betul merupakan contoh simbiosis mutualisma beraroma keluarga. Sesudah membariskan pasukan, menggelar tikar sambil memberikan instruksi-instruksi dan es-o-pe, melucuti kaos putih cap kupu-nya, terus mengkurep. Segeralah para cucu bergerilya ngusek-usek punggung simbahnya sambil jegigas-jegigis... Dan dengan sedapnya Simbah liyer-liyer sampai ketiduran penuh kebahagiaan...

"Oalah Mbah, kangen aku nglongkopi daki di punggungmu itu.... dhuwik selawé repismu itu bikin aku serasa kaya mendadak...."

3 komentar:

Moes Jum mengatakan...

Tetep dadi sing pertama meneh ... aku pengen dadi koyo simbahmu, ning dipijeti karo cah ayu sepuluh ... sssshhhh

coro liyane mengatakan...

ha ha ha ... :)

anakperi mengatakan...

tur nuwun 'nan wis dienggoki...

pakdhe moes jum, heroik'e ra pengen tah?

mas coro liyane, liyane coro apa? hehehehe....